Home Bandung Asal-Usul Nama ‘Bandung’

Asal-Usul Nama ‘Bandung’

130
Sejarah Kota Bandung
Kota Bandung. Foto: bandung.go.id

KOTA Bandung adalah ibukota Provinsi Jawa Barat yang dikenal dengan beragam julukan: Kota Kembang, Kota Wisata, Kota Kuliner, Paris van Java, Kota Fashion.

Di posting sebelumnya sudah dibahas Sejarah Kota Bandung. Posting kali ini membahas asal-usul nama Bandung atau mengapa dinamakan Kota Bandung. Ada beberapa pendapat mengenai asal usul nama “Bandung”.

Kota Bandung berdiri 25 September 1810. Makanya, hari ulang tahun atau hari jadi Kota Bandung diperingati setiap tanggal 25 September.

Kota Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan permukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Kemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota Bandung.

Bendungan & Danau Bandung

Dikutip dari laman resmi Diskominfo PPID Kota Bandung, nama “Bandung” berasal dari kata “bendung” atau “bendungan”.

Konon, dahulu kala, Sungai Citarum terbendung oleh lava yang berasal dari Gunung Tangkuban Perahu. Akibatnya, daerah antara Padalarang hingga Cicalengka dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu hingga Soreang terendam air dan menjadi sebuah telaga besar.

Nah, telaga besar itu kemudian dikenal dengan sebutan “Danau Bandung” atau “Danau Bandung Purba”.

Menurut penelitian, Danau Bandung itu lama-kelamaan surut. Di bekas daerah danau tersebut, berdirilah pemerintahan Kabupaten Bandung pada zaman kolonial Belanda.

Jadi, secara historis asal-muasal nama Bandung itu berasal dari “Danau Bandung”.

Kendaraan Air Bupati RA Wiranata Kusumah II

Pendapat lain mengatakan, kata “Bandung” berasal dari nama sebuah kendaraan air yang digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II.

RA Wiranata Kusumah II

Kendaraan tersebut terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung. Saat itu, R.A. Wiranatakusumah II melayari Citarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot.

Dari Kata “Banding”

Ada juga sejarah kata “bandung” dalam bahasa Indonesia, identik dengan kata “banding” yang berarti “berdampingan”. Ngabanding (Sunda) berarti berdampingan atau berdekatan.

Berdasarkan filosofi Sunda, kata “bandung” berasal dari kalimat “nga-Bandung-an banda indung” yang mengandung nilai ajaran Sunda. Kata “Bandung” mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup maupun benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaanya disaksikan oleh yang Mahakuasa.

Legenda Kota Bandung

Lagenda Kota Bandung

Asal-Usul nama “Bandung” juga memunculkan legenda atau cerita rakyat. Alkisah pada zaman dahulu kala, di tanah Pasundan, di pinggiran Sungai Citarum, hidup seorang kakek tua yang terkenal karena memiliki ilmu sakti. Di sana Ia tinggal bersama anak perempuannya yang cantik jelita. Namanya Sekar.

Selain Sekar, Empu Wisesa memiliki dua orang murid Jaka dan Wira. Ia menemukan mereka ketika masih bayi di sebuah desa yang hancur berantakan karena letusan gunung tangkuban perahu yang hingga saat itu laharnya masih sering membahayakan area sekitarnya. Kedua bayi itu kemudian dibawa pulang, dirawat dan diajarkan ilmu oleh Empu Wisesa.

Walaupun memiliki guru yang sama, Jaka dan Wira memiliki perangai yang berbeda. Jaka berparas tampan. Ia senang bermain dan pandai bercakap. Walaupun pintar, namun karena sifatnya yang menggampangkan sesuatu, ia jauh ketinggalan dari Wira yang rajin mencari ilmu dan hakikat hidup.

Sifat yang berbeda tersebut tidak membuat mereka berdua berjauhan, mereka seperti dua orang saudara yang saling tolong dan berbagi rahasia. Namun ada satu hal yang tak mereka ungkapkan satu sama lain, yaitu tentang perasaan mereka terhadap Sekar, putri guru mereka.

Jaka terlebih dahulu menyampaikan maksud hati untuk melamar Sekar kepada Empu Wisesa. Karena pandai mengambil hati gurunya, Empu Wisesa tanpa meminta persetujuan anaknya langsung menyetujui lamaran Jaka. Ia berpikir Sekar pasti juga menyukai Jaka yang rupawan dan pandai bergaul.

Keesokan harinya, Empu Wisesa memanggil Sekar dan menyampaikan keinginannya untuk menikahkannya dengan Jaka.

Sekar adalah anak yang baik dan berbakti pada orang tua. Namun, baru sekali inilah Sekar membantah orang tuanya. Ia menolak keinginan Empu Wises karena mencintai Wira dan hanya mau menikah dengan Wira.

Empu Wisesa gundah. Agar adil, ia pun membuat sayembara.

“Baiklah, aku hanya akan menikahkan Sekar dengan orang yang bisa memadamkan lahar panas Tangkuban Perahu,” kata Empu Wisesa.

Jaka merasa itu adalah hal yang mustahil. Tidak mungkin memadamkan lahar panas yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu.

Namun, didepan Empu Wisesa, ia menyanggupi nya dan mengaku ingin mengembara mencari ilmu untuk memadamkan lahar. Ia hanya berfoya-foya, bahkan bermain wanita.

Berbeda dengan Wira. Ia berpikir keras mencari tahu bagaimana cara memenangkan sayembara itu. Dengan tekun setiap hari ia mengitari cekungan luas yang terbentuk oleh lahar panas tersebut. Ia tahu hanya air yang bisa mengalahkan api, tapi dari mana dia bisa mendapatkan air sebanyak itu?

Setahun berlalu, ia belum juga menemukan caranya, hingga suatu hari ia melihat berang-berang yang sedang membuat bendungan dari ranting-ranting pohon.

“Wah, bagaimana kalau aku membendung Sungai Citarum sehingga airnya bisa memadamkan lahar panas,” pikirnya dalam hati.

Dengan penuh perhitungan Wira mulai melaksanakan ide nya itu. Mula-mula ia mengungsikan manusia dan hewan-hewan yang ada di cekungan lahar tersebut agar tidak tenggelam oleh air.

Berbekal kesaktian dari Empu Wisesa, ia meruntuhkan sebuah bukit dengan tangannya, sehingga tanah dan batuan membendung air sungai.

Lama-kelamaan air mulai menggenang. Lahar panas menjadi dingin dan cekungan itu berubah menjadi danau yang luas. Orang-orang menyebut daerah itu “Danau Bandung”.

Setelah berhasil melewati ujian yang di berikan oleh Mpu Wisesa, ia pun kemudian pulang dan melamar Sekar. Mpu Wisesa sangat senang, murid nya terbukti sangat mencintai anak semata wayang nya, dan mencegah bencana yang bisa muncul akibat lahar panas itu.

Tak lama kemudian mereka pun mengadakan pesta pernikahan yang meriah, dihadiri oleh semua penduduk disekitarnya. Jaka tidak ada kabar beritanya lagi.

Setelah bertahun-tahun Wira & Sekar dikaruniai banyak anak dan cucu, sementara itu bendungan yang dibuat Wira mulai runtuh akibat debit air yang tinggi. Lama-lama air di danau itu mulai mengering, tanah nya menjadi subur dan gembur. Akhir nya mereka pun berpindah kesana, tak lupa mengajak penduduk sekitar.

Lama kelamaan daerah itu menjadi ramai ditinggali dan didatangi pengembara. Karena danaunya sudah tidak lagi ada, mereka menyebutnya “Bandung”.

Menurut mitos, penduduk asli Kota Bandung berasal dari keturunan Wira dan Sekar.

Begitulah Legenda fiktif asal mula nama Kota Bandung, yang berasal dari kata “bendung” atau “bendungan” yang dibuat oleh Wira untuk memadamkan lahar panas Tangkuban Perahu.*

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here