Home Bandung Sejarah Kota Bandung

Sejarah Kota Bandung

30
Sejarah Kota Bandung
Kota Bandung. Foto: bandung.go.id

APA yang terbayang di benak Anda saat mendengar atau membaca kata “Bandung”? Persib? Sudah pasti. Kuliner? Pasti juga. Fashion? Ya benar. Gadis atau perempuan cantik? Keindahan alam? Kesejukan? Benar semua!

Macet dan banjir juga iya sih, kalau hujan deras banget mah.

Bandung itu indah. Ada ungkapan, “Bandung diciptakan Tuhan sambil tersenyum”. Ungkapan itu diadopsi dari ungkapan untuk menggambarkan keindahan keseluruhan tanah Pasundan, yakni “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”, yang ditulis budayawan asal Belanda, MAW Brouwer.

Ungkapan “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum” itu tertera di sebuah jembatan penyeberangan di kawasan Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung.

Bandung Diciptakan Tuhan Sambil Tersenyum
Jembatan Penyebrangan di Alun-Alun Jalan Asia Afrika Bandung. (Foto serbabandung)

Bagaimana sejarah kota Bandung yang sebenarnya? Berikut ini kilas sejarah kota Bandung yang dirangkum dari berbagai sumber.

Ibu Kota Jawa Barat

Kota Bandung adalah ibu kota provinsi Jawa Barat. Selain kota Bandung, ada juga wilayah sekitarnya yang menggunakan nama “Bandung”, yakni Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Kota Bandung sendiri asalnya merupakan wilayah Kabupaten Bandung yang kini beribu kota Soreang.

Kota Bandung dikenal dengan sebutan Kota Kembang dan Parijs van Java (bahasa Belanda) atau “Paris dari Jawa“. Karena terletak di dataran tinggi, Bandung dikenal sebagai tempat yang berhawa sejuk. Hal ini menjadikan Bandung sebagai salah satu kota tujuan wisata.

Sejarah Kota Bandung

Kota Bandung tidak berdiri bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Bandung. Kota itu dibangun dengan tenggang waktu sangat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri.

Kabupaten Bandung dibentuk sekitar pertengahan abad ke-17 Masehi. Bupati pertamanya Tumenggung Wiraangunangun. Ia memerintah Kabupaten Bandung hingga 1681.

Semula, Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot), sekitar 11 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Bandung sekarang.

Ketika kabupaten Bandung dipimpin oleh bupati ke-6, yakni R.A. Wiranatakusumah II (1794-1829) yang dijuluki “Dalem Kaum I”, kekuasaan di nusantara beralih dari Kompeni ke Pemerintahan Hindia Belanda, dengan gubernur jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811).

Untuk menjalankan tugasnya di Pulau Jawa, Daendels membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) dari Anyer di ujung barat Jawa Barat, ke Panarukan, di ujung timur Jawa timur (sekitar 1000 km). Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing.

Di daerah Bandung khususnya dan daerah Priangan umumnya, Jalan Raya Pos mulai dibangun pertengahan tahun 1808, dengan memperbaiki dan memperlebar jalan yang telah ada.

Di wilayah Bandung sekarang, Jalan Raya Pos itu adalah Jalan Jenderal Sudirman – Jalan Asia Afrika – Jalan Jenderal Achmad Yani, yang berlanjut ke Jalan Raya Cibiru, kawasan Cileunyi, lalu Tanjungsari-Sumedang, dan seterusnya.

Agar pejabat pemerintah kolonial mudah mendatangi kantor bupati, Daendels melalui surat tanggal 25 Mei 1810 meminta Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten, masing-masing ke daerah Cikapundung dan Andawadak (Tanjungsari), mendekati Jalan Raya Pos.

Sebelum surat Daendels dikeluarkan, Bupati Bandung sudah berencana memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung ke sebuah lahan kosong berupa hutan di tepi barat Sungai Cikapundung (pusat kota Bandung sekarang), tepi selatan Jalan Raya Pos yang sedang dibangun saat itu.

Alasan pemindahan ibukota itu antara lain, Krapyak (Dayeuhkolot) tidak strategis sebagai ibukota pemerintahan, karena terletak di sisi selatan daerah Bandung dan sering dilanda banjir bila musim hujan.

Sekitar akhir tahun 1808 atau awal tahun 1809, bupati Bandung beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Krapyak mendekati lahan bakal ibu kota baru.

Mula-mula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampur Bogor (Kebon Kawung, lahan Gedung Pakuan sekarang).

Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Kota Bandung dibangun. Akan tetapi, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Daendels, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung, bahkan pembangunan kota itu langsung dipimpin oleh sang bupati.

Dengan demikian, Bupati Bandung R.A. Wiranatakusumah II adalah pendiri kota Bandung.

Kota Bandung diresmikan sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25 September 1810.

Timeline: Sejarah Penting Kota Bandung

1488 – Bandung didirikan sebagai bagian dari Kerajaan Pajajaran.
1799 – VOC mengalami kebangkrutan sehingga wilayah kekuasaannya di Nusantara diambilalih oleh pemerintah Belanda. Saat itu Bandung dipimpin oleh Bupati R.A. Wiranatakusumah II.
1808 – Belanda mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Nusantara setelah ditinggalkan VOC.

1809 – Bupati memerintahkan pemindahan ibu kota dari Karapyak ke daerah pinggiran Sungai Cikapundung (alun-alun sekarang) yang waktu itu masih hutan tapi sudah ada permukiman di sebelah utara.
1810 – Daendels menancapkan tongkat di pinggir sungai Cikapundung yang berseberangan dengan alun-alun sekarang. “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!”). Sekarang tempat itu menjadi titik pusat atau KM 0 kota Bandung.
25 Mei 1810 – Daendels meminta bupati Bandung dan Parakanmuncang memindahkan ibukota ke wilayah tersebut.

25 September 1810 – Daendels mengeluarkan surat keputusan pindahnya ibu kota Bandung dan sekaligus pengangkatan Raden Suria sebagai Patih Parakanmuncang.

Sejak peristiwa tersebut, 25 September dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Bandung dan R.A. Wiranatakusumah sebagai bapak pendiri (the founding father).

Sekarang nama R.A. Wiranatakusumah diabadikan menggantikan Jalan Cipaganti sekaligus mengenang wilayah itu menjadi rumah tinggal sang bupati sewaktu ibu kota berpindah ke alun-alun sekarang.

24 Maret 1946 – Pembumihangusan Bandung oleh para pejuang kemerdekaan yang dikenal dengan sebutan “Bandung Lautan Api” dan diabadikan dalam lagu “Halo-Halo Bandung”.

1955 – Konferensi Asia-Afrika diadakan di Kota Bandung.
2005 – KTT Asia-Afrika 2005

Geografi Kota Bandung

Bandung terletak pada koordinat 107° BT and 6° 55’ LS. Luas Kota Bandung adalah 16.767 hektare. Kota ini secara geografis terletak di tengah-tengah provinsi Jawa Barat.

Peta Kota Bandung Jawa Barat

Kota Bandung terletak pada ketinggian ±768 m di atas permukaan laut rata-rata (mean sea level), dengan di daerah utara pada umumnya lebih tinggi daripada di bagian selatan.

Ketinggian di sebelah utara adalah ±1050 msl, sedangkan di bagian selatan adalah ±675 msl. Bandung dikelilingi oleh pegunungan, sehingga Bandung merupakan suatu cekungan (Bandung Basin).

Melalui Kota Bandung mengalir sungai utama seperti Sungai Cikapundung dan Sungai Citarum serta anak-anak sungainya yang pada umumnya mengalir ke arah selatan dan bertemu di Sungai Citarum, dengan kondisi yang demikian, Bandung selatan sangat rentan terhadap masalah banjir.

Daftar Wali Kota Bandung

  1. E.A. Maurenbrecher (1906-1907)
  2. R.E. Krijboom (1907-1908)
  3. J.A. van Der Ent (1909-1910)
  4. J.J. Verwijk (1910-1912)
  5. C.C.B. van Vlenier (1912-1913)
  6. B. van Bijveld (1913-1920)
  7. B. Coops (1920-1921)
  8. S.A. Reitsma (1921-1928)
  9. B. Coops (1928-1934)
  10. Ir. J.E.A. van Volsogen Kuhr (1934-1936)
  11. Mr. J.M. Wesselink (1936-1942)
  12. N. Beets (1942-1945)
  13. R.A. Atmadinata (1945-1946)
  14. R. Sjamsurizal (1946)
  15. Ir. Ukar Bratakusumah (1946-1949)
  16. R. Enoch (1949-1956)
  17. R. Priatna Kusumah (1956-1966)
  18. R. Didi Djukardi (1966-1968)
  19. R. Hidayat Sukarmadidjaja (1968-1971)
  20. R. Otje Djundjunan (1971-1976)
  21. Utju Djoenaedi (1976-1978)
  22. R. Husein Wangsaatmadja (1978-1983)
  23. Ateng Wahyudi (1983-1993)
  24. Wahyu Hamidjaja (1993-1998)
  25. Aa Tarmana (1998-2004)
  26. Dada Rosada (2004-2008)
  27. Dada Rosada (2008-2013)
  28. Ridwan Kamil (2013-2018)
  29. Oded M Danial (2018-2023)
Balai Kota Bandung
Balai Kota Bandung (Kantor Wali Kota Bandung)  Jl. Wastukancana No. 2. Foto: bandung.go.id

Penduduk Kota Bandung

Jumlah penduduk Kota Bandung mencapai lebih dar 2,4 juta jiwa. Dirilis BPS Kota Bandung, tahun 2017 jumlah penduduk kota Bandung mencapai 2.497.938 jiwa.

Laman Data Bandung menunjukkan, jumlah penduduk kota Bandung tahun 2016 sebanyak 2.397.396 jiwa, Tahun 2017 sebanyak 2.412.458 jiwa, dan tahun 2018 ada 2.452.179 jiwa.

Demikian sekilas sejarah kota Bandung plus data lainnya. (blogerbandung.com).*

Sumber: bandung.go.id

 

7 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here